Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Maraknya Pencurian Batu Bara Di Jalur Sungai Mahakam

Jakarta-TAMBANG- Akhir-akhir ini marak terjadi pencurian batu bara di sepanjang jalur sungai Mahakam. Beberapa pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) mendapatkan komplain dari pembeli, karena batu bara yang hilang mencapai 500 metrik ton dalam satu kali pengiriman. Hal ini seperti disampaikan Ervina Fitriyani, GM PT Bina Insan Sukses Mandiri (BISM). 

Komplain pertama datang dari pembeli di Semarang yang mengaku kehilangan 500 metrik ton, pada Agustus 2014 lalu. Kemudian pada pertengahan Oktober lalu, pembeli dari Surabaya pun mengakui hal yang sama. Dari 2 tongkang yang dikirim, kehilangan masing-masing 450 metrik ton sampai 480 metrik ton batu bara.

“Padahal, di draft pengiriman batu bara (jumlahnya) sudah sesuai. Tapi kenapa ketika sampai di buyer kok malah kurang,” jelas Vina, saat dihubungi majalah Tambang (Rabu, 29/10).

Akibat kehilangan tersebut, kerugian minimal mencapai Rp 200 juta. Jumlah kerugian itu untuk batu bara kalori rendah. Jumlah kerugian akan lebih besar, jika kalori batu bara yang hilang lebih tinggi. Kehilangan batu bara dalam perjalanan ke pelanggan ini, ternyata tidak saja dialami oleh PT BISM, tetapi juga beberapa perusahaan lain yang melakukan pengangkutan melewati delta sungai Mahakam.

Kesal dengan kurangnya jumlah batu bara yang diterima, pemegang IUP bersama salah satu pembeli, melakukan investigasi. Hasilnya, ternyata ada aksi pencurian yang dilakukan di sepanjang Sungai Mahakam, terutama di wilayah Pendingin dan Palaran, jalur menuju lepas pantai.

Aksi pencurian biasanya dilakukan pada malam hari. Tongkang yang memuat batu bara diikuti oleh perahu motor atau kapal di belakangnya. Ketika sampai di lokasi Pendingian dan Palaran, paralon berukuran besar dinaikian ke tongkang dan dipakai sebagai sarana untuk memindahkan batu bara dari tongkang ke perahu. ! perahu atau kapal, dapat menampung sekitar 60 ton batu bara.

“Batu bara hasil curian, ditumpuk di pinggir sungai. Padahal, sekitarnya tidak ada akses jalan tambang menuju lokasi tambang. Sudah ada yang menampung dan siap menjualnya ke konsumen,” cerita Vina lagi.

Investigasi yang dilakukan, dengan berpura-pura menjadi pembeli batu bara hasil curian tersebut. Dalam 1 bulan, para penampung batu bara curian bisa menjual setidaknya 2 tongkang batu bara atau sebanyak 16 ribu metrik ton. Anehnya lagi, batu bara hasil curian itu, dilengkapi surat keterangan asal barang. 

“Padahal, kami tau orang yang menampung itu tidak punya IUP. Lalu bagaimana dengan izin jettynya. Kita ngga tau apakah ada kjerjasama dengan oknum yang mengelurakan izin tersebut,” ucapnya heran.

Pencurian batu bara, lanjut Vina memang sudah ada sejak dahulu. Perusahaan tambang bahkan harus menyewa aparat keamanan bersenjata untuk mengamankan batu bara yang dikirim. Sejak itu, kegiatan pencurian meredup dan kini mulai kembali terjadi dalam 6 bulan terakhir ini.

Ia mengaku belum emalporkan ke aparat kepolisian. Karena akan kesulitan sebab akan dimintai barang bukti. Padahal, agak sulit membuktikan bahwa batu bara yang ditumpuk tersebut merupakan batu bara dari tambang milik mereka. Namun seharusnya, aparat keamanan bisa menyelidiki tumpukan batu bara tersebut, karena tidak ada akses jalan tambang dari tempat batu bara ditumpuk.

“Sekarang antisipasinya ya, kita mengirimkan batu bara pada siang hari. Kalau malam hari ngga berani, karena pasti ada pencurian karena sepi,” pungkasnya memberi solusi.


Lokasi Toko