Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Kecil-kecil, Mereka Sudah "Melek" Korupsi

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu menyatakan, pendidikan antikorupsi harus diterapkan mulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Begitu juga menurut Indonesia Corruption Watch yang menilai sikap antikorupsi perlu ditanamkan sejak usia dini. Ternyata, sejumlah anak yang mengikuti lomba menggambar yang digelar ICW sudah "melek" dengan apa yang dimaksud korupsi. 

Lomba tersebut merupakan bagian dari acara yang digelar ICW di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (14/12/2014). 

Seperti yang diutarakan Gilang, seorang siswa kelas empat sekolah dasar di kawasan Jakarta Selatan. Menurut dia, korupsi sama dengan mencuri menggunakan strategi. "Mereka mencuri uang negara, dengan strategi," kata Gilang sambil menyelesaikan gambarnya. 

Dalam lomba ini, Gilang menggambar sejumlah ikon yang kerap dihubungkan dengan korupsi, seperti tikus, gedung KPK, dan orang yang berteriak dari dalam sel. Tak hanya itu, Gilang juga menggambar seseorang mengenakan rompi oranye yang terlihat dijaga oleh dua petugas berseragam KPK di belakangnya. 


Sementara itu, Fadil yang bersekolah di SD Pondok Bambu mengartikan korupsi sebagai perilaku yang tidak jujur. Ia lantas menorehkan contoh korupsi melalui gambar yang dibuatnya.  "Korupsi itu tidak jujur. Menyontek, perilaku yang tidak jujur," kata murid kelas 5 sekolah dasar itu. 

Dalam gambar yang dibuatnya, Fadil membagi kertas menjadi dua bingkai. Dalam bingkai pertama, terlihat tiga anak berseragam putih-merah sedang ujian. Fadil menceritakan bahwa mereka saling menyontek dalam ujian. Kemudian, dalam bingkai kedua, ketiga anak itu terpergok menyontek oleh guru sehingga diberi hukuman. 

Menurut ICW, peran orangtua sangat besar dalam menumbuhkan karakter antikorupsi pada anak. Hal tersebut pun dibenarkan oleh Hesti, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Pulo Gebang, Jakarta Timur. Menurut dia, sejak dini anak-anak harus diajarkan untuk selalu bertindak dan berkata jujur. 

"Nomor satu, pendidikan agama harus dibentuk. Agamanya harus kuat dulu," ujar Hesti. 

Hesti pun punya cara sendiri menguji kejujuran anaknya. Ia kerap menyuruh puterinya yang masih bersekolah di taman kanak-kanak untuk belanja di warung. "Suka ngetes anak ke warung, kita kasih uang berapa nanti kembaliannya berapa. Sesuai enggak," kata Hesti 

"Soal mainan juga. Kalau mainan temannya saja dia takut ngambil, yang lebih gede dia bakal lebih takut lagi," lanjut dia.

Lokasi Toko