Bajuyuli baju muslim anak perempuan

Kasus Anak Teraniaya

Kontak batin seorang karyawati bagian informasi dan teknologi PT Pertamina, Lisa (30 tahun), dengan putra pertamanya, RAN, begitu kuat. Pada Jumat, akhir Agustus lalu, sekitar pukul 13.30 WIB, ia tiba-tiba ingin sekali melihat buah hatinya. Bocah itu dititipkan di ruang penitipan (baby daycare) yang terlentak di lantai dasar kawasan gedung Pertamina, Jakarta Pusat.

Lisa melihat buah hatinya sedang tidur di atas kasur. Saat akan menggendong bayi berusia 14 bulan itu, ia melihat pipi sebelah kanan anaknya lebam dengan warna merah kebiruan. Lisa terkejut dan memanggil perawat yang mengasuh bayinya. "Kenapa anak saya sampai pipinya seperti ini?" kata Lisa menanyakan kepada perawat berusia 23 tahun itu.

Anak Teraniaya terekam CCTV
Anak Teraniaya terekam CCTV
"Anu, Bu. Si abang terpentok mainan kereta-keretaan," jawab sang perawat di tempat penitipan anak bernama Highreach tanpa perasaan bersalah. 


Namun, Lisa tidak percaya begitu saja dengan penjelasan perawat di Kompleks Gedung Pertamina Pusat itu. Ia curiga dan menemui petugas keamanan di kantor tersebut. Kepada petugas sekuriti, ia meminta supaya rekaman kamera pengintai (CCTV) di ruang tersebut diputar untuk melihat kejadian sebenarnya.

Lisa tak kuasa menangis dan stres melihat rekaman tersebut. Dari rekaman terungkap anaknya mengalami penyiksaaan, mulai dari ditimpa kasur, diayun sampai kepalanya terpentok dinding, dipontang-panting dengan cara tangannya ditenteng, serta dilempar ke kasur. 

Kasus penganiayaan bayi di ruang penitipan anak di sebuah kantor BUMN itu kini diusut tim Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat dan mendapatkan penanganan dari Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). 

Betulkah negara gagal mengatasi masalah anak? Apalagi, kasus RAN terjadi justru di kompleks perkantoran BUMN. Sang karyawati yang bekerja di Pertamina tidak bisa lagi mendapatkan tempat yang aman untuk menitipkan anaknya. Padahal, suami dan dirinya harus bekerja di perusahaan negara tersebut. 

Sekjen KPAI Erlinda menilai, negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua sama-sama telah gagal melindungi dan menjaga anak Indonesia dari kekerasan. 

"Sesuai Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi menjadi UU Perlindungan Anak adalah kewajiban negara untuk memberikan perlindungan bagi anak," kata Erlinda dalam diskusi masalah anak yang diselenggarakan Ditjen Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial, di sebuah hotel di Jakarta, belum lama ini.

Ya, kekerasan pada anak tidak saja telah menjadi isu nasional, tapi juga global. Di beberapa negara maju, menurut Direktur Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial Edi Suharto, bahkan kekerasan pada anak ini telah menjadi hal umum, baik itu kekerasan emosional, fisik, maupun seksual. Dalam konteks nasional, kekerasan demi kekerasan terhadap anak telah menjadi kasus umum. 

"Maka, tidak ada alasan bagi masyarakat untuk tidak memberikan perlindungan terhadap anak, khususnya bagi mereka yang rentan (vulnerable children)," ujar Edi. 

Bahkan di luar dugaan, lanjut Edi, ternyata anak laki-laki lebih rentan terhadap kekerasan dibandingkan anak perempuan. Sayangnya, sebagian besar anak-anak ataupun masyarakat pada umumnya belum mengetahui tentang layanan sosial berkait kekerasan pada anak. Dan, pelaku kekerasan nyatanya didominasi oleh orang-orang terdekat yang sudah mengenal korban. Padahal, sistem perlindungan anak telah menjadi amanat konstitusi.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM), segala bentuk kekerasan sudah sewajarnya dihapuskan dari kehidupan umat manusia. Kekerasan dalam bentuk apa pun dan yang menimpa pihak manapun. Negara ini tidak akan menjadi bangsa yang beradab selama kekerasan dibiarkan terjadi dan tidak dipedulikan. 

Namun, kekerasan demi kekerasan terus terjadi di Indonesia, terutama kekerasan yang terjadi pada anak. Dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk yang masih berada dalam kandungan ibunya.

Sebagian besar anak di Indonesia hidup dalam bayang-bayang kekerasan yang menimbulkan trauma mendalam. Padahal, anak adalah generasi penerus bangsa sehingga menjadi aset yang sangat berharga. Kehidupan anak saat ini adalah potret kehidupan bangsa pada masa mendatang. 

Artinya, jika membiarkan kekerasan demi kekerasan terjadi pada anak saat ini, sama artinya dengan menciptakan masa depan yang suram bagi kehidupan bangsa pada masa yang akan datang. 

Kekerasan terhadap anak di Indonesia bukanlah praduga, melainkan merupakan fakta yang tak terbantahkan, seperti kasus penyiksaan bayi di daycare kantor Pertamina. Begitu banyak pemberitaan yang menghiasi media massa menyangkut fenomena kekerasan terhadap anak ini, baik itu kekerasan secara fisik maupun nonfisik.  

Ingat, masalah kekerasan telah akut dalam kehidupan masyarakat. Parahnya lagi, kekerasan dianggap sebagai hal yang wajar. Kewajaran ini bisa dimengerti karena setiap sesuatu yang terjadi secara berulang-ulang bisa dianggap benar oleh masyarakat. Dengan begitu, ini menjadi semacam wacana (discourse) umum di tengah masyarakat. 

Karena itu, meminjam istilah Michael Foucault, menurut Edi, perlu ada wacana tandingan (counter-discourse) yang berfungsi sebagai penyeimbang sekaligus lonceng peringatan. 

Dalam tayangan televisi, misalnya, masyarakat kerap dipertontonkan acara-acara yang menampilkan kekerasan secara telanjang. Kekurangan dalam bentuk fisik sering menjadi bahan ejekan, cemoohan, dan bahan tertawaan. 

Ironisnya, masyarakat  juga merasa terhibur dengan kondisi semacam ini. Terbukti acara-acara yang menampilkan kekerasan semacam ini menjadi program favorit dengan rating yang sangat tinggi ditunjukkan dengan waktu penayangannya pada jam-jam khusus (prime time). 

Karena itu, hal ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Karena jika dibiarkan, kekerasan akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Begitu pula dengan kekerasan terhadap anak, akan dianggap sebagai sesuatu yang wajar meskipun hal itu melanggar hak-hak kemanusiaan seseorang.


Murah dan efektif untuk menjaga kemanan rumah anda!


Bisa cod di Bandung, search Google Maps: Dummy CCTV Bandung

Terima kasih

Lokasi Toko